Cast : Infinite’s L as Kim Myungsoo | Hello Venus’ Alice as Song Joohee
Author : salicelee
Genre : Angst, Romance
Length/Rate : Ficlet/PG
Hello, salicelee disini, maaf ya enggak bawain ‘ROCK TO DIAMOND’ atau ff lain yang sedang pending. Lagi sibuk XD hahaha. sebagai gantinya, salice bawain ficlet dulu aja, yaaa.. semoga nggak mengecewakan.. ku harap kalian mengerti alurnya…. *doa*
Aku lagi suka banget sama Alice-nya HELLO VENUS, dan aku pengen ngeship dia sama L, dia satu2nya yeoja yang aku bener-bener ikhlasin sama L . . (meskipun mereka ga ada moment sama sekali, aku Cuma suka aja, sih..) ternyata Alice eonni ini 90 Line. Err, aku langsung mikir berarti dia noonanya L, aku kepikiran bikin cerita seperti ini. Pure 100% mine. Semoga cerita gini engga pasaran, karena asli aku ngetik kemarin dalam 1 jam. semoga enggak banyak Typo. RCL juseyo <3
Maaf kubikin L dan Alicenya agak OOC.
Saranku, buka lagu, B.A.P – Rain Sound, Infinite – Voice of My Heart
*
Noona, sudah berapa lama aku tidak menemuimu?
Mungkin 4 tahun lamanya.
Sudah berapa lama hati ini masih terisi olehmu?
Sudah 6 tahun, noona.
Noona ..
Aku merindukanmu.
*
Rintik hujan terus mengguyur tanah, suara hujan menghiasi gelapnya malam. Gadis itu hanya diam menatap jendela di kamarnya. Dengan rambut acak-acakan dan sepasang mata sayunya yang terlihat letih dan bengkak. Ia menatap kosong layar ponselnya. Dengan satu gerakan gesit, ia membuat ponsel itu hancur retak tak berbentuk lagi. Ia menangis, meraung sejadi-jadinya, memegang dadanya yang terasa begitu sesak sembari meneriakkan nama seseorang, Kim Jaejoong.
“Kau, jahat!” Gadis itu berteriak kencang sambil melempar bantal dan selimut yang sudah berserakan di atas tempat tidurnya.
“Noona..”
Satu suara dingin namun lembut itu menghentikan teriakan si gadis.
“Joohee noona..”
Satu kali lagi si pemilik suara membuat si gadis sadar bahwa sedari tadi ia tak jauh berbeda layaknya orang yang kehilangan akal sehat.
“Ini Myungsoo..” panggilnya lembut. Ia, si pria berwajah dingin mencoba mendobrak pintu kamar Joohee. “Noona, izinkan Myungsoo masuk.. jangan seperti itu..” ujar Myungsoo karena terus mendengar isakan dan suara dentuman dari kamar Joohee.
“Noona?”
“Tidak ingin menjawabku, ya? Ya sudah, Myung tidak memaksa, tapi noona buka pintunya, ya?” pinta Myungsoo pelan.
Tak sampai 1 menit, pintu dibuka oleh sosok Joohee dengan mata sembab dan jari yang berdarah dengan bercak bekas gigitan.
“Yah! Noona-ya! Kenapa menggigit jari sendiri?” tanya Myungsoo hangat meskipun wajahnya masih terlihat dingin. Ia memeluk Joohee hangat, meskipun kerap kali Joohee berusaha melepaskan pelukannya, ia makin mengencangkan pelukannya, mencengkram Joohee makin erat.
“Kumohon, noona. Berhentilah bersikap seperti ini. Jangan menjauhiku.”
Gadis itu terhenyak sesaat dengan air mata yang terus bercucuran dari matanya.
“Aku tahu hyungku itu brengsek. Tolong maafkan dia. Maafkan Jaejoong hyung..”
Gadis itu makin terisak akhirnya seduan tangisnya meluap keluar dalam pelukan Myungsoo, ia membalas pelukan Myungsoo erat.
“Kenapa dia melakukan itu padaku?” Joohee pun angkat bicara setelah daritadi berdiam diri. Myungsoo hanya diam mendengarkan tanpa membalas pertanyaan ambigu Joohee.
“Myungsoo, aku kurang apa, ya di matanya? Kenapa dia begitu padaku.. Dia pergi begitu saja, meninggalkan aku, lalu jalan bersama gadis lain. Bahkan, berpelukan di depanku.”
Myungsoo hanya mendesah dan menatap Joohee dengan iba. Kemudian memeluk Joohee tanpa menerima balasan pelukan dari Joohee. Joohee hanya diam dengan posisi terduduk dan dipeluk Myungsoo, mata berlinangnya terus menerawang tidak jelas.
“Maaf noona, aku mencintaimu.”
Kalimat itu sontak membuat Joohee terkejut. Myungsoo meraih tangan Joohee dan mengelusnya, mengelap dengan kaus hitamnya sehingga bercak darah merah yang sudah lumayan kering itu tertempel sedikit di kausnya.
“Maafkan aku, Myung..”
“Ya, Noona? Aku tahu. Jangan bilang bahwa kau tidak mencintaiku lagi. Jangan diulangi. Itu sakit.”
“Maaf.”
Hanya satu kata itu yang terlontar dari mulut Joohee. Lidahnya kelu. Ia tidak tahu harus bagaimana dan menjawab apa. Di pikirannya, dia hanya harus meminta maaf.
“Myung, carilah gadis lain. Mereka lebih baik dariku..” Joohee masih terisak ketika mengucapkan kalimat tersebut.
“Jangan menangis. Aku benci air matamu.”
“Myung, carilah gadis lain. Aku tidak bisa mencintaimu.”
“Kau bukannya tidak bisa, kau tidak mau, noona. Aku sudah menunggumu selama 2 tahun ini.”
“Myung, carilah gadis lain.”
Tiga kali Joohee mengulang kalimat yang sama sudah cukup membuat Myungsoo sakit hati. Air mata Myungsoo serasa ingin menyeruak keluar.
“Aku hanya ingin noona, bukan gadis lain.”
“Kamu akan menemukan gadismu nantinya.”
“Aku sudah menemukannya. Dia ada disini, di hadapanku.”
Joohee menggeleng lemah. Ia memanggil nama Myungsoo dengan lirih nyaris tak terdengar.
“Noona, sudah 2 tahun aku menunggumu… coba pacaran denganku…”
“Noona, lupakan hyungku. Dia tidak menyayangimu. Kau tidak bahagia dengannya.”
“Aku bahagia bersamanya, Myung..”
“Kalau bahagia kau tidak akan menangis seperti ini. Noona, aku tulus padamu, aku akan membantumu melupakannya, pacaranlah denganku. Aku akan membuatmu bahagia, aku mencintaimu, sungguh. I will take responsibility till the end. Please, be mine.”
“Tidak bisa, aku tidak mungkin bisa menggunakan orang sebaik dirimu sebagai pelampiasan.”
“Noona, ini bukan pelampiasan. Aku tunggu jawabanmu, 1 minggu lagi?”
“Tidak mungkin secepat itu.”
“Lalu? 1 bulan? Baik.”
“Tidak, Myung. 1 tahun ya?” tanya Joohee agak ragu-ragu.
Alhasil Myungsoo menitikkan air mata. “Myung.. mianhae…” ujar Joohee lirih.
“Terima kasih, 1 tahun saja kan? Jangan bohong, ya.” Kata Myungsoo sontak membuat Joohee kaget, ia tak habis pikir. Ia kira Myungsoo mungkin akan kecewa atas permintaannya menunggu dirinya 1 tahun kemudian. Myungsoo malah berterimakasih dan sekarang memeluknya. Bahkan, menitikkan air mata.
“Terimakasih, atas kesempatan yang noona berikan..” Myungsoo tersenyum kecil.
“Haruskah aku menyanyi untukmu? Aku menciptakan lagu loh!” ujar Myungsoo berusaha mencairkan suasana, ia buru-buru menghapus air matanya. “Noona ada gitar, kan? Myungsoo pinjam, ya..” ujar Myungsoo sambil mengambil gitar yang terletak di lantai dekat meja rias Joohee. Ujung gitar itu terlihat rusak. Seperti habis dibanting.
Myungsoo mulai memainkan senar gitar dengan kunci-kuncinya dan mulai bernyanyi dengan suara merdu khasnya.
Be Mine [Ballad Version] *idea by me, bayangkan aja Be Mine versi slow mellow, dengan backsound gitar*
Whooa, hoo.. whooa…
jikyeobwa watjanha …
jikyeobwa watjanha ni sarangeul gin ibyeoreul
neul sangcheobadeul baen nan ge naattokbaro bwa uneunge sirheoseo geurae
apeunge himdeureo geurae geureon neol bol ttaemadanaekkeo haja naega neol saranghae eo? naega neol geokjeonghae eo?
naega neol kkeutkkaji chaegimjilge
naekkeo haja niga nal aljanha eo? niga nal bwatjanha eo?
naega neol kkeutkkaji jikyeojulge
Do you hear me? Do you hear me? ohnaekkeo haja naega neol saranghae eo? naega neol geokjeonghae eo?
naega neol kkeutkkaji chaegimjilge
gachi gaja himdeungil geotjima eo? swipji anhatjanha eo?
dasineun geureon neol bogi sirheo (oh.. ohh..)noona ya, eo naega neol saranghae eo? naeui song joohee eo?
naega neol kkeutkkaji chaegimjilge
“Song joohee! Naekkeo haja?!”
Myungsoo menghentikan permainan kecilnya. Ia melihat Joohee menitikkan air mata sambil tersenyum kecil.
“Nah, baguslah kalau noona tertawa.” Ucap Myungsoo sambil mengelus rambut Joohee. Joohee mengangguk.
“Kau terlihat seperti orang bodoh, Myung..”
“Biarkan, aku akan melakukan apapun agar kau senang,” ujar Myungsoo tersenyum jahil.
“Gomawo.” Katanya pelan.
“Jangan bilang begitu. Aku akan menunggumu 1 tahun lagi. Mari tetap menjadi kakak adik untuk saat ini,”
“Ng!” Alice mengangguk pasti dan tertawa lepas.
Noona, kau harus tahu, aku sangat menyukaimu, menyayangimu. Tidak, aku mencintaimu. Teruslah tertawa seperti itu. Aku akan menjaganya. Jangan pernah menangis untuknya lagi.
*
Noona . .
Masih ingat kejadian itu tidak?
Aku masih mengingatnya meskipun kondisiku begini.
Maaf Noona, sudah lebih dari setahun, aku tidak menepati janjiku.
Aku seharusnya ada disana kan sekarang? Bersamamu. Betul, kan?
Aku ingin kesana. Hatiku terus memanggilku untuk kesana. Ke tempatmu. Tapi aku tidak bisa. Kenapa? Kenapa begini jadinya? Sudah berapa lama aku disini? Aku ingin ke tempat mu. Memelukmu. Aku bosan terus-terusan disini tanpa melakukan apapun. Hati ini, jantung ini, masih berdetak untuk noona. Hampir 5 tahun mungkin aku disini. Aku tidak ingat jelas. Entah 4 atau 5 tahun.
Yang pasti, selama 6 tahun ini, hanya kamu disini. Di hatiku.
Apa yang noona lakukan sekarang? Sudah menikah dengan namja lain, ya? Apa kau bahagia? Tidak menangis seperti saat itu kan? Saat Jaejoong hyung berselingkuh. Jangan, ya.
Aku khawatir. Apa noona makan dengan benar? Aku kesal. Aku ingin berbicara denganmu. Kenapa aku tidak bisa?
Noona . .
Kalau aku masih mencintaimu bagaimana? Aku bahkan belum mendengar jawabanmu.
Noona . .
Apa kau mencintaiku? Meskipun sedikit saja.
Aku malu, aku seperti pengemis cinta.
*
10 bulan kemudian,
“Saengil chukkahamnida, Song Joohee!” teriak Yooyoung heboh. “Mana Myungsoo oppa?” tanyanya.
“Dia dalam perjalanan kesini, young..” Joohee tersenyum lebar.
“Aw, sepertinya kau sudah mulai menyukainya, ya?” Nara mencoba menggoda Joohee. Joohee hanya diam dengan wajah memerah.
“Wah, wah, dasar si bodoh Joohee kita ini, sudah ditunggu selama hampir 3 tahun oleh seorang pria tampan, masih saja tidak mau menerima pria setulus itu,” Hyerim ikut menimpali Nara menggoda Joohee.
“Joohee-ya? Kalau suka jangan pedulikan umurnya lagi. Kalian hanya beda 2 tahun, kan?” Nara menasihati Joohee.
“Aku… berniat memberitahukannya hari ini…” ujar Joohee pelan.
“Beritahu apa? Eonni ingin menolaknya lagi? Astaga… sini buat youngie aja, deh!” kata Yooyoung bercanda meskipun wajahnya terlihat kesal karena kenaifan eonninya.
“Tidak, bukan begitu… aku akan menerimanya…”
“WOW! CHUKKAE CHUKKAE!!” teriak Nara, Hyerim dan Yooyoung bersamaan. “Kau harus menraktir kami makan, okay?!” usul Hyerim.
“Belum!!! Aku belum bilang!! Chukkae apanya…”
“Nah, mari kita telepon Myungsoo oppa..” kata Yooyoung sambil bersenandung dan mengeluarkan ponselnya.
“Dia lama sekali, kurasa sedang mempersiapkan kado special untukmu, Joohee-ya..” kata Nara sambil menyikut Joohee. “Biasa dia kan selalu menjadi orang pertama yang mengucapkannya untukmu. Hahaha.”
“Aku tidak tahu,” Joohee tidak banyak bicara, karena ia merasa tidak enak. Ada yang mengganjal di perasaannya.
Tut.. tut.. tut…
“Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Sibuk. Padahal aktif. Kemana Myungsoo oppa pergi..” Yooyoung berdecak sebal. Tak lama, ponsel Yooyoung berdering kembali. ‘Dari Myungsoo’.
“Oh oh, ini dari oppa!” Yooyoung menekan tanda loudspeaker di touchsreen i-phonenya supaya eonninya yang lain bisa mendengarnya.
“Apa kabar? Ini teman tuan Myungsoo, ya?” ujar suara di seberang sana.
Perasaan Joohee sudah mulai tidak enak, karena yang mengangkatnya bukan Myungsoo sendiri, ditambah orang yang mengangkatnya adalah pria dewasa yang berbicara formal.
“Maaf, Myungsoo-sshi sedang dilarikan di rumah sakit. Tadi ia mengalami kecelakaan..”
Jantung Joohee serasa berdetak lebih cepat. Tenggorokkannya serasa tercekik. Hatinya sangat perih dan matanya terasa panas. Air matanya turun mengalir deras. Hatinya seribu kali jauh lebih sakit dibanding 10 bulan yang lalu, dimana ketika ia diduakan oleh Jaejoong, kakak Myungsoo.
Betapa bodohnya ia karena baru menyadarinya. Bahwa ia mencintai Myungsoo.
*
Noona . .
Ulang tahunmu saat itu, bagaimana?
Apa kau menangis untukku?
Ah, bukan maksudku ingin kau menangis.
Aku hanya…
Ingin tahu.
Aku sudah merekam suaraku di dalam boneka kelinci putih kesukaanmu. Aku bilang, ‘Happy birthday naui saranghaneun noona, jeongmal saranghaeyo! Saengil chukkahamnida! Have a blast! Don’t cry! And today. I would to say, would you be mine? Aku malas menunggu 2 bulan lagi!’
Tapi sekarang malah 4 tahun lebih..
Meskipun kondisiku begini, hatiku terus memikirkanmu.
Apa kau menemukan pasangan barumu? Aku takut.
Tapi jika kau bahagia, aku akan merelakannya.
Aku ingin mendengar suaramu, noona.
Tuhan . .
Izinkan aku mendengar suaranya.
Biarkan aku menatap matanya lagi.
*
“Myungsoo.. kau harus bangun… sekarang sudah 2013, seminggu yang lalu itu hari valentine! Aku membelikan coklat untukmu. Kau suka kan?” ujar Joohee menggenggam tangan kanan Myungsoo yang masih penuh dengan peralatan medis. Joohee menatap 4 coklat–yang sudah kadaluwarsa—yang berada di meja samping pasien.
“Lihat, kau jadi kerempeng gitu, kau tidak tampan lagi. Dasar Myung jelek…” ujar Joohee berlinang air mata. Pandangannya sudah buram.
“Myung, lihat boneka kelinci ini.. dia manis sekali.. kau yang berikan padaku. Sekarang kau bangun, ucapkan apa yang kau ucapkan untukku lewat boneka ini pada saat itu, aku ingin kau bicara padaku secara langsung. Ayo ya, Myung?” Joohee menitikkan air mata, sambil memeluk boneka kelinci putih pemberian Myungsoo.
“Myungsoo, meskipun dokter bilang kemungkinan besok kau akan meninggal, aku tetap akan disini. Aku akan terus berdoa untukmu. Kau harus bangun..”
*
“—dokter bilang kemungkinan besok kau akan meninggal, aku tetap akan disini. Aku akan terus berdoa untukmu. Kau harus bangun..”
“Myung…”
“Kau dengar noona, tidak? Myung… hiks hiks…”
Noona, jangan menangis. Aku bisa mendengarnya.
Apa tinggal besok hariku? Noona, aku tidak ingin kau menangis. Aku minta maaf. Aku tidak menepati janjiku. Malah kau yang menunggu lama begini.
Tuhan, terima kasih setidaknya kau membiarkan aku mendengar suaranya. Sebelum kau memanggilku kembali. Namun, mengapa kau tak mengizinkan aku menjaganya?
Aku menangis, ya? Entahlah. Aku tidak merasakan air mataku mengalir di pipiku. Semoga saja tidak.
*
“Myung, kenapa menangis? Berarti kau dengar yang kuucapkan kan? Ayo bangun…”
“Sekarang aku sendiri disini, maaf aku menyimpannya terlalu lama, 4 tahun kusimpan, seharusnya aku beritahu kan? Kau bisa mendengar yang kukatakan, kan?”
“Myungsoo…. Ini Noona, Joohee noona… Noona mencintaimu, maaf noona memendamnya selama 4 tahun ini, maaf noona memberitahukannya ketika noona diberitahu besok kau akan pergi. Maafkan noona…”
“Kim Myungsoo, saranghae…” Joohee menghapus air mata yang mengalir di ekor mata Myungsoo dengan ibu jarinya. “Jangan menangis, kau harusnya senang, kau masih mencintai noona, kan? Ayo bangun dan tersenyum, ucapkan ’nado’ untukku…” Joohee semakin menangis menjadi-jadi. Ia tahu usahanya berbicara kepada Myungsoo yang sedang ‘tidur’ ini sia-sia.
*
“Kim Myungsoo, saranghae…”
“Jangan menangis, kau harusnya senang, kau masih mencintai noona kan? Ayo bangun dan tersenyum, ucapkan ‘nado’ untukku…”
Tadi, aku merasakan ibu jarinya menyentuh mataku.
Aku senang kau mencintaiku. Aku tahu aku harus bangkit. Aku harus bangun, jangan menangis. Nanti aku akan menghapus air matamu. Jangan menangis lagi, ya. Aku akan bangun, noona.
Eh,
Lho? Kenapa aku bisa merasakan sentuhan?
Pelan-pelan semuanya terlihat terang.
Ini dimana?
Oh…
Aku tahu…
*
“…na,” panggil sumber suara kecil nyaris tak terdengar.
“Tuhan, biarkan Myungsoo hidup, kumohon muzizatmu. Dia pria yang baik, rajin beribadah, tidak merokok, sopan, tidak minum-minuman keras, tidak berjudi, dia baik. Tolong berikan kesempatan hidup untuk orang sebaik dia. Dia orang yang tulus… dia jujur, Tuhan…” doa Joohee sembari memejamkan mata dan melipat tangannya.
Joohee masih berdoa dengan mata sembab yang terpejam.
“Nu….a,”
Joohee selesai berdoa dan mendapatkan sosok Myungsoo yang masih terbaring lemah namun dengan mata yang terbuka menatap Joohee dengan hangat.
“Myung!!!!!”
“Na…do…” ujar Myungsoo pelan.
Joohee menangis mendekatkan wajahnya dengan wajah Myungsoo yang masih lengkap dengan alat bantu pernafasan. Joohee mengelus pipi Myungsoo. Myungsoo terlihat ingin menangis. Pelan-pelan Myungsoo menggerakkan tangannya dan menghapus air mata Joohee.
“u..ima…(uljima)” kata Myungsoo tidak jelas.
“Sudah jangan bicara lagi! Aku akan panggil dokter! Tunggu disini! Jangan pejamkan mata!”
Myungsoo tersenyum kecil. “Bawel..” pikirnya.
*
Joohee kembali dan berlari sambil membawa seorang dokter dan beberapa perawat, ia mendapatkan sosok Myungsoo yang sudah memejamkan mata dengan damai.
“M-myung….. bangun..”
Joohee ternganga dengan air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya. Ia masih terus menggumam, menatap kosong layar CTG yang telah menampilkan garis lurus, tanda berhentinya detak jantung Myungsoo.
“Kalau kamu bangun hanya untuk memberitahuku itu…. kau…. ja.. jahat..” Joohee menangis sejadi-jadinya.
Tim dokter segara mengambil peralatan kejut, mencoba menjalankan jantung Myungsoo lagi. Nihil. Joohee hanya terdiam mematung di depan Myungsoo, lalu jatuh terduduk dengan pandangan kosong.
“KIM MYUNGSOO!!!”
Tidak ada reaksi.
“Kau bilang, kau sayang padaku, kan? kalau begitu ayo bangun! Kenapa meninggalkanku disaat seperti ini!! Myung bangun, Myung….”
Sedangkan tim dokter hanya memandang Joohee iba, setelah berusaha 5 kali menjalankan jantung Myungsoo, gagal.
*
Noona . .
Pada akhirnya, jadi seperti ini. Maafkan Myungsoo..
I really don’t know, Noona . .
Kenapa kita seperti ini. Kenapa kita diatur seperti ini?
I don’t know, Noona
Kita tidak bisa bersama. Aku pergi sekarang.
Jangan menangis,
Aku akan tetap menjagamu dari sini.
Sa……
-rang…….
-hae.
*
Engga puas sama sad ending? Aduh saya juga gak rela toh, Myungsooku dibuat
mati,meninggal, hiks. Aku bikin versi Happy Endingnya. Maaf deh kalau maksa jadinya.
[Happy ending version]
………..
“Sudah jangan bicara lagi! Aku akan panggil dokter! Tunggu disini! Jangan pejamkan mata!”
Myungsoo tersenyum kecil. “Bawel..” pikirnya.
Tak lama tim dokter datang dan mulai mengopname Myungsoo….
*
2017
“Terima kasih sudah menungguku selama itu, noona… aku kira kau sudah pergi entah kemana…” kata Myungsoo menatap Joohee yang sedang berdiri disampingnya mengenakan gaun putih panjang mewah dengan tiara kecil di atas kepala Joohee.
“Kau cantik sekali hari ini. Sangat cantik..” gumam Myungsoo.
“Baik sekarang lempar buket bunganya! Siap-siap yang sedang sendiri tanpa pacar, mari menyusul sepasang insane berbahagia ini! Yak, Joohee-ssi silahkan dilempar!” ujar si pembawa acara diikuti gerakan melempar buket bunga oleh Joohee.
Dan…
“BUNGAKU!!!!!” Teriak Yooyoung ketika ia mendapatkan buket bunga di tangan kanannya tapi dengan posisi tak lazim, “Oi, oi… kau menimpaku….” Ujar seorang pria yang di timpa Yooyoung.
“Oh Sungyeol-ah!” panggil Myungsoo.
“Hei, kawan lama!! Aku rindu padamu!!” ucap Sungyeol cepat-cepat berdiri. Myungsoo tersenyum lebar dan memeluk Sungyeol lalu memperkenalkannya pada Joohee.
“Wah, jadi dia, noona yang sedari dulu kau ceritakan…”
“Yes, she’s the one. And she’s officially mine now..”
FIN
Ada yang mau minta sequelnya apa gimana, nih? Hahaha. Saya bingung, milih endingnya LOL.

Reblogged this on GRAPHICS AND FICTION.
hay .. new reader here !
salam kenal yaa unnie
hi, kamu biasnya alice unnie juga ya? xD hahaha salam kenal juga
iyaa .. hehe
unnie juga ?
iyaa dia bias cewe pertama aku OAO
ohaha .. dia cantik plus keren sih ! baby face ..
unnie, aku boleh nitip epep gak ?
betul <3 lalu dia juga 4D absurd lucu imut ahahah XD~~ nitip ff? maksud km jdi author freelance?kkke~ boleh kok! kirim aja ke emailku ^o^
bagus ffnya… castnya biasku semua
XD thanks
Ffnya dibuat 2 version \m/ sequelnyaa ;;